Senin, 09 September 2013

Caving at Buniayu, Sukabumi



Temu Wicara dan Kenal Medan (TWKM XXIV)
Mahasiswa Pecinta Alam Tingkat Perguruan Tinggi se-Indonesia
Kenal Medan (KM) Caving di Komplek Buniayu, Sukabumi, Jawa Barat
oleh : Nurlaela Rosdiyana/ L-318

        Temu Wicara dan Kenal Medan (TWKM) merupakan forum komunikasi mahasiswa pecinta alam tingkat perguruan tinggi se-Indonesia. TWKM kali ini diadakan di Bandung. Forum yang secara rutin dilakukan setiap tahunnya membahas kondisi eksternal dan internal yang terjadi pada organisasi mahasiswa pecinta alam. Selain itu, pertemuan ini membahas permasalahan lingkungan hidup. Salah satu bentuk kegiatannya selain temu wicara adalah Kenal Medan (KM) yaitu berupa penelusuran Gua di Komplek Gua Buniayu, Sukabumi.
           Berangkat dari sekretariat LAWALATA IPB pada tanggal 15 Oktober 2012 pukul 16.30 WIB, bersama Nuzul mewakili LAWALATA IPB dalam kenal medan caving. Untuk rundown acara ini tidak ada pemberitahuan jelas dari panitia, sehingga kamitidak berangkat awal karena harus menyelesaikan suatu urusan di kampus.Menuju lokasi dengan menggunakan bis menuju terminal Leuwi Panjang, Bandung. Perjalan total untuk ke Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) sekitar 5 jam dari kampus IPB. Sampai UPI sekitar pukul 22.00 WIB, menuju sekretariat Mahacita untuk registrasi. Ternyata tim caving sudah berangkat ke lokasi sejam yang lalu. Tapi kami memutuskan untuk menyusul sendiri kesana besok pagi.
Tanggal 16 November 2012, tanpa ditemani dari pihak panitia, kami pun menyusul ke lokasi dengan jalur yang sudah diberikan panitia pada pukul 08.30 WIB. Untuk menuju lokasi, dari UPI-Term. Lw.panjang menggunakan bus kota Rp 2.000/orang orang perjalanan sekitar 1 jam, terminal Lw.panjang-Term. Sukabumi menggunakan bus ekonomi Rp 15.000/orang perjalanan sekitar 3 jam, lalu Terminal Sukabumi- Pasar menggunakan Angkutan Umum Rp 2.000/orang, kemudian berjalan kaki sekitar 30 menit menuju Ramayana, lalu Ramayana – Terminal Jubleg menggunakan Angkutan Umum 25 warna hitam ongkos Rp 2.000/orang perjalanan sekitar 30 menit, Terminal Jubleg-pertigaan Pondok PesantrenRindu Alam menggunakan Angkutan Umumdengan perjalanan sekitar 1,5 jam ongkos Rp 8.000/orang.Gua ini terletak di Komplek Gua Buniayu, Desa Kertanagsana Kecamatan Nyalindung. Tiba di lokasi pukul 16.20 WIB, materi tentang speleologi Gua sedang berjalan. Kami pun mengikuti jalannya materi yang sedang berlanjut, tak lama sudah selesai materinya. Lalu pengecekan alat SRT. Panitia mengecek peralatan yang kami bawa dan diperiksa alat dari warna, nomor seri, jumlah dengan teliti agar tidak tertukar.
Saling bersalaman dan berkenalan satu sama lain, agak sulit untuk menghafal mereka semua dengan cepat karena jumlah mereka yang cukup banyak dan dari asal yang berbeda-beda pula.Pertanyaan demi pertanyaan bermunculan tentang menyusulnya kami ke lokasi KM caving. Kami pun menjawab seperlunya saja. Lalu malamnya pembagian kelompok untuk menelusuri Gua-Gua yang berada di komplek Buniayu, Sukabumi. Satu kelompok terdiri dari 10 orang dengan total 5 kelompok. Pada KM kali ini bukan hanya berkegiatan menelusuri tapi melakukan pemetaan Gua. Sebelum istirahat, saling bertukar materi tentang pemetaan dan penelusuran Gua agar saat di lapangan sudah siap.
Tanggal 17 Oktober 2012, Gua pertama untuk tim kami telusuri adalah Gua Izar yang merupakan Gua horizontal. Sebelum berangkat, mempersiapkan peralatan caving (cover all, helm + headlamp dan cadangan, sepatu boot), peralatan studi pemetaan (tally sheet, pensil, kompas, busur, meteran), beberapa webing dan konsumsi. Perjalanan dari basecamp ke lokasi sekitar 20 menit dengan berjalan kaki. Setiba di lokasi, tim kami kembali mengecek perlengkapankembali, pembagian tugas untuk pemetaan ada deskriptor sketsa, shutter, stasioner, dan notulensi.Dengan entrance sekitar 50 cm, tim menelusuri dengan memulai pemetaan pada stasiun nol yaitu entrance. Termasuk dalam jenis Gua yang berlumpur dan berair. Ornamen Gua pun beragam terdiri dari stalaktit, stalakmit, soda straw, pilar dan gordam. Adpun sering ditemukanlorong dengan chamber yang besar dengan luas sekitar ½ kali lapangan bola. Tim terus menelusuri dengan pemetaan yang dilakukan secara bergantian. Beberapa biota ditemukan seperti kelelawar, Amblipighy. Pada ujung Gua terdapat danau dengan luas sekitar 20 meter. Salah satu dari tim kami mencoba berenang untuk menegcek terdapat lubang yang masih dapat ditelusuri atau tidak. Setelah memasang pengaman, turun dan berenang mengelilingi danau tersebut dengan tetap mengikat badannya dengan webing sebagai pengaman. Ternyata tak ditemukan lubang satupun, itu menandakan penelusuran berakhir sampai titik tersebut, perjalanan pulang dengan jalur yang sama. Lalu ditemukan lubang kecil dan kami mencoba menelusurinya lagi dengan jalan merangkak karena jarak antara atap dan lantai Gua tinggi sekitar 50 cm. Denggn jalur yang berair terus menelusuri, ternyata lorong tersebut menembus ke jalur utama. Perjalanan pulang dilanjutkan sampai mulut Gua. Setelah keluar smpai mulut Gua, menyempatkan diri untuk berfoto dan berjalan kembali pulang ke basecamp.Malam harinya merekap data hasil pemetaan. Menghitung dan menggambar sketsa Gua dari tampak depan dan tampak samping. Setelah itu, mempersiapkan penelusuran untuk esok hari. Gua yang akan tim kami telusuri selanjutnya adalah Gua Ta’i.
Tanggal 18 November 2012 pukul 09.30, tim berangkat menuju Gua Ta’i dengan perjalanan sekitar 30 menit. Berbeda dari Gua sebelumnya, Gua Ta.i merupakan Gua vertikal sehingga untuk menelusurinya harus menggunakan alat. Persiapan setelah sampai mulut Gua, tim memakai perlengkapan set Single Rope Technique (SRT) dan dua orang lainnya memasang anchor untuk turun ke dalam Gua. Setelah selama 1 jam membuat anchor, tim turun satu persatu.Dengan lebar mulut Gua sekitar 1 meter dan kedalaman Gua sekitar 30 meter kami meuruni celah tersebut dan begitu sampai dasar kami terkagum dengan luasnya ruangan di dalam Gua ini dan hanya tampak lubang kecil diatas tempat dimana mulai masuk. Setelah itu, dilanjutkan dengan lorong yang horizontal. Tampak terlihat bongkahan batu yang sangat besar-besar harus dilewati. Perjalanan di mulai dengan mengikuti alur sungai bawah tanah ini. perjalanan di dalam Gua ini sangat beragam mulai dari yang mendaki, menurun bahkan medan lumpur dan kering pun dilewati dan tentu saja dengan pemandangan dari ornamen-ornamen Gua seperti stalagtit, stalagmit, soda straw, pilar dan gordam yang indah di sepanjang perjalanan. Biota yang ditemukan terdapat kelawar, Ambliphigy, dan jangkrik. Setelah berjalan lebih 1 jam tetapi belum sampai ujung, tim pun kembali ke mulut Gua dengan jalur yang sama. Lalu kembali ke basecamp untuk membersihkan diri dan alat-alat.
Tanggal 19 Oktober 2012, tim dari LAWALATA IPB memutuskan untuk pulang lebih awal dikarenakan adanya ujian tengah semester (UTS) pada tanggal 21 Oktober 2012. Memilih pulang lebih awal karena harus mempersiapkan ujian dan lebih fokus lagi. Rasa sangat berat untuk meninggalkan kegiatan tersebut pun muncul, halangan dari teman-teman yang baru saja kami kenal sangat kuat. Tapi keputusan kami tetap pulang karena memikirkan kuliah lebih penting dan prioritas utama untuk saat ini. Banyak ilmu baru dan bermanfaat yang didapatkan dari kegiatan KM tersebut, diantaranya pemetaan Gua dan juga dapat mengenali medan Gua yang berada diKomplek Gua Buniayu, Sukabumi.

Senin, 29 April 2013

Pendakian Rinjani

Perjalanan 23 Agustus 2012-6 September 2012

Transportasi Jakarta Utara-Lombok Timur

Kepergian 
  • Tg.priok (jkt)-Plumpang(jkt) : Metro mini 07 Rp 2.000 (15 menit)
  • Plumpang (jkt)-St.Senen (jkt) : Metro mini 07 Rp 2.000 (1/2 jam)
  • St.Senen (jkt)-St.Malang Kota (mlg) : Kereta Matarmaja Rp 51.000 (20 jam)
  • St.Malang Kota (mlg)-Term.Arjosari (mlg) : Angkot Rp 3.000 ( 1/2 jam) *tiket kereta ke Banyuwangi habis
  • Term.Arjosari (mlg)-Term.Mengwi (bali) : Bus Dahlia Rp 125.000 (15 jam) *pakai ngetem di Probolinggo 30 menit dan transit di Jember 2 jam. Sudah termasuk penyebrangan Pel. Ketapang(bwg)-Pel. Gilimanuk (bali) Rp 6.000. Alternatif bus malang-banyuwangi Rp 60.000, malang-lombok Rp 300.000
  • Term.Mengwi (bali)-Term.Ubung (bali) : Angkot Rp 7.000 (1/2 jam) *biasanya Rp 5.000
  • Term.Ubung (bali)-Pel.Padang Bay (bali) : Elf Rp 40.000 (1.5 jam)
  • Pel. Padang Bay (bali)-Term.Mandalika (lmbk) : Bus Tiara Mas Rp 50.000 (5 jam) *sudah termasuk penyebrangan Pel- Padang Bay (bali)-Pel. Lembar (lmbk) Rp 36.000
  • Term. Mandalika (lmbk)-Masbagek (lmbk) : Engkel/ nama angkot di Lombok Rp 20.000 (2 jam) *orang lokal biasanya Rp 10.000-Rp15.000
 Pendakian 
  • Masbagek (lmbk)-Pasar Aikmel (lmbk) : Engkel Rp 5.000 (1 jam) 
  • Pasar Aikmel (lmbk)-Pos Sembalun (lmbk) : Pick Up Rp 15.000 (1,5 jam) *orang lokal Rp 10.000
  • Pos Senaru (lmbk)-Pasar Anyer (lmbk) : Engkel nebeng (1 jam)
  • Pasar Anyer (lmbk)-Masbagek (lmbk) : Engkel Rp 20.000 (3 jam)
Kepulangan
  • Mataram (lmbk)-Pel. Lembar (lmbk) : Taksi Rp 38.000 (1/2 jam)
  • Pel. Lembar (lmbk)-Pel. Padang Bay (bali) : Kapal Rp 36.000 (4 jam)
  • Pel. Padang Bay (bali)-Term. Ubung (bali) : Angkut Rp 40.000 (1,5 jam)
  • Term. Ubung (bali)-Pel. Ketapang (bwg) : Bus Rp 30.000 (5 jam)
  • Pel. Ketapang (bwg)-St. Tawang Alun (bwg) : jalan kaki (15 menit)
  • St. Tawang Alun (bwg)-St. Malang Kota (mlg) : kereta Rp 18.500 (2,5 jam)
  • St. Malang Kota (mlg)-St. Senen (jkt) : kereta Matrmaja Rp 51.000 (20 jam)
  • St. Senen (jkt)-Tg.priok (jkt) : Metro mini 07 Rp 2.000 (1/2 jam)

 Catatan : 
  • Ketika perjalanan pasca lebaran, harga transportasi bisa meningkat 2x lipat
  • Usahakan jago nego, biar harganya bisa miring
  • Harga orang lokal berbeda dengan pendatang (dimahalin)
  • Calo banyak dan dimana-mana : jawa (baik, bicaranya halus), bali (baik, bicaranya agak tegas), lombok (galak, serem, besar-besar badannya, bicaranya keras, maksa). intinya calo selalu mahal, mending langsung cari ke loket resmi atau tanya langsung kondektur bus nya
  • Banyak cari literatur
  • Jarang angkut, banyak taksi di Lombok
  • ering ngobrol (SKSD) dan tanya-tanya orang, buat tambahan literatur
  • lebih baik pesan untuk tiket kereta (alfa mart, alafa midi, indomart, ceria mart, dll) 
  • KTP di cek pas penyebrangan, jadi jangan sampai lupa. Sebenarnya surat jalan dari organisasi dan kepolisian juga bisa sangat membantu perjalanan ini.

Jalur Pendakian Gn. Rinjani (Sembalun-Senaru)  

  • Pos Sembalun-Pos 1: keadaan savana 1 jam perjalanan, masuk hutan tropis 1/2 jam, lalu savana lagi 1 jam. Total 2,5 jam. Ada shelter, istirahat. Ini lewat jalur tikus lebih cepat 1 jam.
  •  Pos 1-kalimati : savana perjalanan 2 jam. Bermalam, karena terdapat sumber air yang berada di cekungan, sehingga harus diendap dulu biar jernih, baru dapat digunakan.
  • Kalimati-Pos 3 : savana lagi selama 1/2 jam perjalanan. Ada shelter, istirahat.
  • Pos 3-Plawangan Sembalun : Padang savana dan melewati sekitar 7 bukit, 3,5 jam perjalanan. Padang edelweis dan kelihatan danau Segara Anak, terdapat sumber air sehingga dapat bermalam. Sudah mulai aklimatisasi, mual-mual dan badan teras kurang enak. Oya, banyak monyet jadi harus hati-hati!. Ada yang jualan juga (minuman, rokok, makanan ringan)
  • Plawangan Sembalun-Puncak : berangkat dini hari sekitar pukul 02.00. Awal jalur berdebu dan masih landai. Setelah perjalanan 2 jam, jalur mulai terjal dengan batu-batu kecil dan berpasir, meleawti jalur S dan terus sampai ke puncak terjal sehingga selangkah jalan turun lagi. Total perjalanan menuju summit 4 jam.
  • Puncak-Plawangan Sembalun : Lari. Perjalanan sekitar 1.5 jam.
  • Plawangan-Danau Segara Anak : Melewati 3-4 bukit, perjalanan selama 2 jam full bebatuan terjal seperti tebing karst. Hati-hati tersandung!. Setelah itu landai mipir bukit melewati kalimati (TKP meninggalnya 7 pendaki yang terkena badai). Total perjalanan 4,5 jam sampai danau. Subhanallah... Ada air panas (belerang), jalan sekitar 30 menit dari danau. Mancing, ikannya sangat banyak.
  • Danau Segara Anak-Goa Taman : Perjalanan 1/2 jam terus menurun. Goa berbentuk horizontal, dengan entrance yang sempit, terdapat kolam kecil dengan kedalaman sekitar 150 cm dapat diminum dan dibuat mandi/ cuci muka. Terdapat dua entrance, salah satunya sangat kecil, mitosnya jika dapat melewati mulut goa yang kecil itu tandanya hatinya bersih. 
  • Goa Taman-Goa Susu : Sekitar 10 menit perjalana. Dengan mulut goa yang besar, dengan chamber yang berukuran sekitar 1/4 lap bola , berair, dan beruap. Ornamennya lebih indah dari goa Taman, karena masih aktif.
  • Danau Segara Anak-Plawangan Senaru : berjalan memipir danau selama 15 menit, selanjutnya padang savana, lalu melewati batu-batu ceper, kemudian padang savana lagi. Total 2,5 jam.
  • Plawangan Senaru-Pos 3 : perjalanan 2 jam, jalur berdebu dan full savana. Lari turun..
  • Pos 3-Pos 2 : Hutan tropis, perjalanan 1 jam
  • Pos 2-Pos Senaru : Full hutan, perjalanan 3 jam.
  • Pos Senaru : menginap di warung bu Jannah 
Catatan :
  • Tiket masuk Rp 10.000
  • Jaket super hangat, suhu sangat dingin terutama di Danau
  • Hati-hati ranjau (kotoran manusia) banyak dan dimana-mana
  • Cuaca ekstream, kadang sangat panas lalu dingin. Butuh sesuatu yang ada di hidung/ wajah biar tidak terbakar
  • Bawa alat pancing, di Danau banyak ikannya
  • Cek perlengkapan pendakian, terutama sepatu, jaket, dll
  • Kamera, siap baterai dan memory, karena pemandangan yang luar biasa indah di sepanjang jalur pendakian, puncak, danau, dll
  • Perbanyak literatur juga (cuaca, jalur, dll)
  • Jangan lupa brem nya (fermentasi dari tape) Rp 30.000/ 1,5 lt. :)
  • Jaga sikap, karena banyak mitos-mitos yang masih dipercaya
ENJOY YOUR JOURNEY....!!!!!  :P






Selasa, 26 Maret 2013

Pendakian Gunung Rinjani oleh Dua Putri Anjani

Namaku Lehi, salah satu Anggota Biasa di Perkumpulan Mahasiswa Pecinta Alam Institut pertanian Bogor yang biasa dikenal dengan Lawalata IPB. Mengenal dunia pecinta alam semenjak masuk perkuliahan, membuat aku lebih ingin mennjelajahi alam di Indonesia ini. Salah satu hal terbesar yang aku impikan dan aku dambakan adalah Gunung Rinjani. Enatah apa pikiran yang merasukku untuk kesana, mungkin keindahan, tantangan dan salah satu karya Tuhan yang maha sesuatu.


to be continued....

Apakah benar "Dia"? (1)

Sering orang mengatakan semuanya akan indah pada waktunya. Semuanya akan terjawab jika waktunya tiba. Ternyata itu semua bukan hanya katanya, tetapi kenyataan yang memang benar terjadi. Lani akhirnya menemukan jawaban dari semua pertanyaan akan hatinya. Keraguan akan seseorang yang ada di kehidupannya, membuat Lani tersadar apakah dia yang terbaik. Doa selalu berucap dari mulut Lani, akan keyakinan dan keraguan yang menerpa hidupnya. "Tuhan, kau sangat baik padaku. berikanlah selalu cahaya hidupmu pada hambamu yang lemah ini. berikanlah sedikit petunjuk akan keraguan hatiku. Buatlah hatiku yakin tanpa ada keraguan sedikitpun. Tuhan, berikanlah setitik cahaya yang akan menerangi hidupku untuk selamnya. Apakah benar "Dia" Tuhan?." 
Keberlanjutan anatara hubungan Heri dan Lani terjawab sudah semuanya. Sebuah keputusan yang tidak akan membuat hati Lani ragu lagi. Terlontar dari mulut Heri, "Lani, aku mau Married." Entah perasaan apa yang harus Lani rasakan, senang, sedih atau kecewa semua bercampur menjadi satu. Hanya bisa terdiam dan terperangah akan berita, mencoba kembali melihat dan memahami arti kata-kata itu. Apa benar, berharap itu semua hanya mimpi. Mencoba berulang kali, berkali-kali mengerti dan terus menampar pipi ini yang sangat sakit ternyata. Ini bukan mimpi Lani, that`s truth. 
Tuhan menjawab semua doa Lani, mengabulkan apa yang Lani inginkan. Seharusnya Lani senang dan lega akan perasaan keraguan selama ini. Tapi, yang Lani rasakan saat ini adalah kecewa karena telah membuang waktu lama untuk selalu memikirkannya. Tiada hari tanpa Heri yang selalu dipikirkannya, hanya sekedar ingin tahu sedang apa, bagaimanan kabarnya. Sakit, karena mungkin Heri merasa Lani bukanlah pilihan yang tepat untuknya. Terpaksa senang karena harus menerima kenyataan, tapi Lani akan selalu berusaha untuk mencoba ikhlas. Sedih, karena Lani sudah merasa mengecewakannya selama ini. 
Segala bentuk perhatian dan kasih sayang yang diberikan Heri oleh Lani salalu diabaikan dengan sifat cuek Lani. Heri selalu mengatakan Lani cuek, sombong dan gengsi. Ya, itu lah Lani yang sebenarnya, andai saja Heri mengerti akan sifat Lani. Seberapa besar Lani mencoba untuk peduli dan tidak cuek trehadap Heri, selalu saja Heri tidak mengerti. Lani dengan segudang aktivitasnya, selalu saja sibuk bahkan untuk dirinya sendiri pun sangat sulit. Heri yang selalu memiliki waktu kosong, sangat berbanding sekali dengan Lani. Jelas saja, akan terjadi hal seperti itu. Lani yang selalu berusaha perhatian, tidak cukup bagi Heri yang sedikit memiliki kesibukannya. Heri mungkin merasa jenuh akan sikap Lani dan akhirnya lebih memilih dan mencari yang lebih baik dari Lani.
Oke Lani, seharusnya kamu bersyukur kepada Tuhan akan semua jawaban dari doamu. Tuhan sangat baik padamu. Itu menandakan kamu harus fokus dengan hal lain, lakukan segala sesuatu yang menurutmu baik dan akan menjadi hasil yang memuaskan. Move on....!!!

Minggu, 24 Maret 2013

“Bola” Serupa Tapi Tak Sama


Jumat sore tanggal 22 Juli 2011, saat cuaca masih tampak cukup panas, tim Ekspedisi Pulau Biak dari Lawalata IPB bersiap-siap untuk melihat langsung acara Barapen yang diadakan di rumah Bapak Kepala kampung Sansundi. Kamera dan handycame untuk mendokumentasikan kegiatan tersebut kami persiapkan. Karena menurut Ka Lukas, seorang guide saat disana, Barapen diadakan pada saat penyambutan tamu kehormatan, sebuah ritual membakar makanan seperti pisang, singkong dengan batu.
Disambut oleh warga sekitar saat tiba, Kepala kampung tidak ada karena saat itu sedang ke dusun tiga untuk menjemput Kepala kampung dusun tiga (Dusun Wopes). Teman-teman yang lain sibuk mendokumentasikan momen persiapan Barapen, ada yang asyik berbincang-bincang dengan warga dan ada pula yang sedang melengkapi data tumbuhan.Aku memilih untuk duduk di saung yang berbentuk seperti rumah panggung dengan keadaan yang sedikit rusak, lantai kayu yang sudah jarang-jarang dan bilik disekitarnya pun mulai rapuh. Tapi sepertinya tampak masih kuat, aku pun menaikinya, tampak bagus melihat suasana sekitar dari atas sini mirip seperti rumah pohon yang ada LAWALATA IPB. 
Sekitar halaman rumah kepala kampung terlihat ibu-ibu dan bapak-bapak sedang menyiapkan perlengkapan Barapen seperti ubi, singkong yang diparut, pisang, talas, beberapa kayu dan batu yang akan digunakan saat pembakaran. Sedangkan di sisi lain halaman tampak anak-anak kecil berusia SD sampai SMP bermain asyik dan senang. Hal yang mereka senang bukanlah robot-robotan, remote control atau game online yang sedang marak saat sini. Di saat anak-anak di perkotaan bermain dengan tekhnologi yang canggih, tapi mereka tidak. Mereka bermain dengan apa adanya, memanfaatkan sesuatu yang ada disekitarnya tanpa harus membuang uang banyak untuk membeli itu.
Aku penasaran apa yang mereka mainkan sampai senang dan tertawa seperti itu, sesuatu bola kecil yang diikat pada tali dan cara memainkannya ada yang ditendang dan di lempar-lempar. Aku dekati, dan aku panggil salah satu dari mereka yang memang sudah aku kenal karena dia sering main ke rumah kami saat di kampung Sansundi, namanya douglas. Aku bertanya, “apa yang sedang kalian mainkan? kenapa senang sekali tampaknya?. Douglas menjawab, “Kami bermain bola”. Bola..? yang ada di pikiranku bola adalah bola yang terbuat dari karet ditendang seperti sepak bola atau bola yang dilempar seperti bola tenis. Tapi tidak, aku mencoba melihat dan mengamati ternyata itu bola kecil yang terbuat dari daun kelapa dan dikaitkan dengan tali yang terbuat dari daun kelapa juga. Aku bertanya, “Siapa yang membuat ini? Apa kamu bisa mengajari aku?. Douglas memanggil salah satu temannya yaitu Herman. Aku melihat dia seperti Lintang, yang ada dalam film “Laskar Pelangi”, dia tampak pendiam terlihat malu saat aku panggil. Akhirnya dia mendekat dan naik ke atas, aku bertanya, “Apa kamu yang membuat bola ini? Apa kamu bisa mengajariku?. Tanpa pikir panjang, dia langsung mengambil sehelai daun kelapa yang memang banyak disekitar halaman. Dia merapikan ujung-ujungnya, lalu di belah bagi dua. Lalu dia mulai melipat bagian kiri ke kanan dan kanan ke kiri. Terus berlanjut dilakukan dengan merapikan membuat bentuk saat daun dilipat ke kanan dan kekiri. Perlahan-lahan aku perhatikan cara pembuatannya, sungguh kreatif sekali dia. Tidak lama kemudian, sudah jadi sebuah bola dari daun kelapa. Lalu aku mencoba membongkarnya kembali dan membuat seperti apa yang dipraktikkan. Ternyata tidak semudah saat melihatnya. Mungkin dia agak gemas melihat aku membolak balik daun kelapa tanpa ada bentuk sedikitpun, yang terjadi adalah daun kelapa tersebut hancur sehingga sudah tidak layak  lagi untuk dijadikan bola. Lalu dia turun dari saung dan mengambil daun kelapa, kali ini cukup banyak daun kelapa yang dia ambil. Dia memberikan satu ke padaku dan memegang satu untuknya. Dia berkata dengan logat khas papua, “Pakai yang baru saja yang itu rusak sudah.”
Dia mempraktikkannya kembali, kali ini gerakan melipat-lipat daun dilakukan dengan pelan-pelan karena aku akan mencoba mengikutinya. Masih sulit, tapi Herman cukup sabar dalam mengajariku membuat bola ini. Setelah cukup lama mencoba, akhirnya jadi juga. Wahh hebat, mungkin punyaku tidak sebagus dengan yang dibuat Herman, tapi lumayan juga. Lalu aku mencoba turun dan mengambil lagi daun kelapa lainnya dan mencoba membuat lagi, sepertinya agak lupa caranya. Aku bertanya pada Herman lagi dan dia mengajariku kembali. Berkali-kali aku coba terus dan terus tanpa putus asa. Taraaa, akhirnya jadi juga lebih bagus dari yang pertama. Kemudian dikaitkan dengan daun kelapa yang dibelah tipis dan diikatkan seperti sebuah alat pancingan.
Aku meminta mereka untuk memainkan bola “ala mereka”. Mereka memainkan dengan cara di lempar-lempar mirip seperti pemain bola yang melakukan atraksi melempar bola ke kepala dan ke kaki, ada pula yang di tendang lalu dimasukkan ke dalam gawang.  Terlihat sederhana, tapi cukup sulit saat memainkan dan membuatnya, mirip seperti sepak bola bedanya bola yang di pakai ini sangat kecil dan cepet rusak karena hanya terbuat dari daun kelapa. Pemainan itu cukup membuat mereka senang, tertawa bersama sama. Bermain, tertawa merupakan salah satu kegiatan yang bisa membuang kepenatan kita setelah berkegiatan seharian. Permainan bola yang ada di Desa Sansundi mengisi waktu luang anak-anak saat mereka selesai berkegiatan belajar di sekolah, sangat unik dan menarik.
Dengan memanfatkan sumber daya alam apa pun yang ada disekitar, kita dapat menghasilkan sesuatu yang membuat senang, hanya mengandalkan rasa ingin tahu, kreatif, dan berani mencoba sesuatu. Menemukan ide-ide cemerlang dari sesuatu yang kecil dan dapat dikembangkan menjadi sesuatu yang besar. Permainan tradisional lah salah satu yang harus dijaga dan dilestarikan saat ini, karena itu merupakan icon atau ciri khas dari budaya Indonesia. Kalau bukan kita, siapa lagi yang peduli dengan permainan tradisional. Mengingat sudah banyak permainan tradisional yang sudah mulai ditinggalkan anak-anak zaman sekarang khususnya di perkotaan. Setiap  orang seharusnya  peduli akan kebudayaan Nusantara sehingga memiliki kesadaran dan tanggung jawab untuk melestarikan kekayaan budaya Indonesia.
Oleh: Nurlaela Rosdiyana/ L-318