Selasa, 26 Maret 2013

Pendakian Gunung Rinjani oleh Dua Putri Anjani

Namaku Lehi, salah satu Anggota Biasa di Perkumpulan Mahasiswa Pecinta Alam Institut pertanian Bogor yang biasa dikenal dengan Lawalata IPB. Mengenal dunia pecinta alam semenjak masuk perkuliahan, membuat aku lebih ingin mennjelajahi alam di Indonesia ini. Salah satu hal terbesar yang aku impikan dan aku dambakan adalah Gunung Rinjani. Enatah apa pikiran yang merasukku untuk kesana, mungkin keindahan, tantangan dan salah satu karya Tuhan yang maha sesuatu.


to be continued....

Apakah benar "Dia"? (1)

Sering orang mengatakan semuanya akan indah pada waktunya. Semuanya akan terjawab jika waktunya tiba. Ternyata itu semua bukan hanya katanya, tetapi kenyataan yang memang benar terjadi. Lani akhirnya menemukan jawaban dari semua pertanyaan akan hatinya. Keraguan akan seseorang yang ada di kehidupannya, membuat Lani tersadar apakah dia yang terbaik. Doa selalu berucap dari mulut Lani, akan keyakinan dan keraguan yang menerpa hidupnya. "Tuhan, kau sangat baik padaku. berikanlah selalu cahaya hidupmu pada hambamu yang lemah ini. berikanlah sedikit petunjuk akan keraguan hatiku. Buatlah hatiku yakin tanpa ada keraguan sedikitpun. Tuhan, berikanlah setitik cahaya yang akan menerangi hidupku untuk selamnya. Apakah benar "Dia" Tuhan?." 
Keberlanjutan anatara hubungan Heri dan Lani terjawab sudah semuanya. Sebuah keputusan yang tidak akan membuat hati Lani ragu lagi. Terlontar dari mulut Heri, "Lani, aku mau Married." Entah perasaan apa yang harus Lani rasakan, senang, sedih atau kecewa semua bercampur menjadi satu. Hanya bisa terdiam dan terperangah akan berita, mencoba kembali melihat dan memahami arti kata-kata itu. Apa benar, berharap itu semua hanya mimpi. Mencoba berulang kali, berkali-kali mengerti dan terus menampar pipi ini yang sangat sakit ternyata. Ini bukan mimpi Lani, that`s truth. 
Tuhan menjawab semua doa Lani, mengabulkan apa yang Lani inginkan. Seharusnya Lani senang dan lega akan perasaan keraguan selama ini. Tapi, yang Lani rasakan saat ini adalah kecewa karena telah membuang waktu lama untuk selalu memikirkannya. Tiada hari tanpa Heri yang selalu dipikirkannya, hanya sekedar ingin tahu sedang apa, bagaimanan kabarnya. Sakit, karena mungkin Heri merasa Lani bukanlah pilihan yang tepat untuknya. Terpaksa senang karena harus menerima kenyataan, tapi Lani akan selalu berusaha untuk mencoba ikhlas. Sedih, karena Lani sudah merasa mengecewakannya selama ini. 
Segala bentuk perhatian dan kasih sayang yang diberikan Heri oleh Lani salalu diabaikan dengan sifat cuek Lani. Heri selalu mengatakan Lani cuek, sombong dan gengsi. Ya, itu lah Lani yang sebenarnya, andai saja Heri mengerti akan sifat Lani. Seberapa besar Lani mencoba untuk peduli dan tidak cuek trehadap Heri, selalu saja Heri tidak mengerti. Lani dengan segudang aktivitasnya, selalu saja sibuk bahkan untuk dirinya sendiri pun sangat sulit. Heri yang selalu memiliki waktu kosong, sangat berbanding sekali dengan Lani. Jelas saja, akan terjadi hal seperti itu. Lani yang selalu berusaha perhatian, tidak cukup bagi Heri yang sedikit memiliki kesibukannya. Heri mungkin merasa jenuh akan sikap Lani dan akhirnya lebih memilih dan mencari yang lebih baik dari Lani.
Oke Lani, seharusnya kamu bersyukur kepada Tuhan akan semua jawaban dari doamu. Tuhan sangat baik padamu. Itu menandakan kamu harus fokus dengan hal lain, lakukan segala sesuatu yang menurutmu baik dan akan menjadi hasil yang memuaskan. Move on....!!!

Minggu, 24 Maret 2013

“Bola” Serupa Tapi Tak Sama


Jumat sore tanggal 22 Juli 2011, saat cuaca masih tampak cukup panas, tim Ekspedisi Pulau Biak dari Lawalata IPB bersiap-siap untuk melihat langsung acara Barapen yang diadakan di rumah Bapak Kepala kampung Sansundi. Kamera dan handycame untuk mendokumentasikan kegiatan tersebut kami persiapkan. Karena menurut Ka Lukas, seorang guide saat disana, Barapen diadakan pada saat penyambutan tamu kehormatan, sebuah ritual membakar makanan seperti pisang, singkong dengan batu.
Disambut oleh warga sekitar saat tiba, Kepala kampung tidak ada karena saat itu sedang ke dusun tiga untuk menjemput Kepala kampung dusun tiga (Dusun Wopes). Teman-teman yang lain sibuk mendokumentasikan momen persiapan Barapen, ada yang asyik berbincang-bincang dengan warga dan ada pula yang sedang melengkapi data tumbuhan.Aku memilih untuk duduk di saung yang berbentuk seperti rumah panggung dengan keadaan yang sedikit rusak, lantai kayu yang sudah jarang-jarang dan bilik disekitarnya pun mulai rapuh. Tapi sepertinya tampak masih kuat, aku pun menaikinya, tampak bagus melihat suasana sekitar dari atas sini mirip seperti rumah pohon yang ada LAWALATA IPB. 
Sekitar halaman rumah kepala kampung terlihat ibu-ibu dan bapak-bapak sedang menyiapkan perlengkapan Barapen seperti ubi, singkong yang diparut, pisang, talas, beberapa kayu dan batu yang akan digunakan saat pembakaran. Sedangkan di sisi lain halaman tampak anak-anak kecil berusia SD sampai SMP bermain asyik dan senang. Hal yang mereka senang bukanlah robot-robotan, remote control atau game online yang sedang marak saat sini. Di saat anak-anak di perkotaan bermain dengan tekhnologi yang canggih, tapi mereka tidak. Mereka bermain dengan apa adanya, memanfaatkan sesuatu yang ada disekitarnya tanpa harus membuang uang banyak untuk membeli itu.
Aku penasaran apa yang mereka mainkan sampai senang dan tertawa seperti itu, sesuatu bola kecil yang diikat pada tali dan cara memainkannya ada yang ditendang dan di lempar-lempar. Aku dekati, dan aku panggil salah satu dari mereka yang memang sudah aku kenal karena dia sering main ke rumah kami saat di kampung Sansundi, namanya douglas. Aku bertanya, “apa yang sedang kalian mainkan? kenapa senang sekali tampaknya?. Douglas menjawab, “Kami bermain bola”. Bola..? yang ada di pikiranku bola adalah bola yang terbuat dari karet ditendang seperti sepak bola atau bola yang dilempar seperti bola tenis. Tapi tidak, aku mencoba melihat dan mengamati ternyata itu bola kecil yang terbuat dari daun kelapa dan dikaitkan dengan tali yang terbuat dari daun kelapa juga. Aku bertanya, “Siapa yang membuat ini? Apa kamu bisa mengajari aku?. Douglas memanggil salah satu temannya yaitu Herman. Aku melihat dia seperti Lintang, yang ada dalam film “Laskar Pelangi”, dia tampak pendiam terlihat malu saat aku panggil. Akhirnya dia mendekat dan naik ke atas, aku bertanya, “Apa kamu yang membuat bola ini? Apa kamu bisa mengajariku?. Tanpa pikir panjang, dia langsung mengambil sehelai daun kelapa yang memang banyak disekitar halaman. Dia merapikan ujung-ujungnya, lalu di belah bagi dua. Lalu dia mulai melipat bagian kiri ke kanan dan kanan ke kiri. Terus berlanjut dilakukan dengan merapikan membuat bentuk saat daun dilipat ke kanan dan kekiri. Perlahan-lahan aku perhatikan cara pembuatannya, sungguh kreatif sekali dia. Tidak lama kemudian, sudah jadi sebuah bola dari daun kelapa. Lalu aku mencoba membongkarnya kembali dan membuat seperti apa yang dipraktikkan. Ternyata tidak semudah saat melihatnya. Mungkin dia agak gemas melihat aku membolak balik daun kelapa tanpa ada bentuk sedikitpun, yang terjadi adalah daun kelapa tersebut hancur sehingga sudah tidak layak  lagi untuk dijadikan bola. Lalu dia turun dari saung dan mengambil daun kelapa, kali ini cukup banyak daun kelapa yang dia ambil. Dia memberikan satu ke padaku dan memegang satu untuknya. Dia berkata dengan logat khas papua, “Pakai yang baru saja yang itu rusak sudah.”
Dia mempraktikkannya kembali, kali ini gerakan melipat-lipat daun dilakukan dengan pelan-pelan karena aku akan mencoba mengikutinya. Masih sulit, tapi Herman cukup sabar dalam mengajariku membuat bola ini. Setelah cukup lama mencoba, akhirnya jadi juga. Wahh hebat, mungkin punyaku tidak sebagus dengan yang dibuat Herman, tapi lumayan juga. Lalu aku mencoba turun dan mengambil lagi daun kelapa lainnya dan mencoba membuat lagi, sepertinya agak lupa caranya. Aku bertanya pada Herman lagi dan dia mengajariku kembali. Berkali-kali aku coba terus dan terus tanpa putus asa. Taraaa, akhirnya jadi juga lebih bagus dari yang pertama. Kemudian dikaitkan dengan daun kelapa yang dibelah tipis dan diikatkan seperti sebuah alat pancingan.
Aku meminta mereka untuk memainkan bola “ala mereka”. Mereka memainkan dengan cara di lempar-lempar mirip seperti pemain bola yang melakukan atraksi melempar bola ke kepala dan ke kaki, ada pula yang di tendang lalu dimasukkan ke dalam gawang.  Terlihat sederhana, tapi cukup sulit saat memainkan dan membuatnya, mirip seperti sepak bola bedanya bola yang di pakai ini sangat kecil dan cepet rusak karena hanya terbuat dari daun kelapa. Pemainan itu cukup membuat mereka senang, tertawa bersama sama. Bermain, tertawa merupakan salah satu kegiatan yang bisa membuang kepenatan kita setelah berkegiatan seharian. Permainan bola yang ada di Desa Sansundi mengisi waktu luang anak-anak saat mereka selesai berkegiatan belajar di sekolah, sangat unik dan menarik.
Dengan memanfatkan sumber daya alam apa pun yang ada disekitar, kita dapat menghasilkan sesuatu yang membuat senang, hanya mengandalkan rasa ingin tahu, kreatif, dan berani mencoba sesuatu. Menemukan ide-ide cemerlang dari sesuatu yang kecil dan dapat dikembangkan menjadi sesuatu yang besar. Permainan tradisional lah salah satu yang harus dijaga dan dilestarikan saat ini, karena itu merupakan icon atau ciri khas dari budaya Indonesia. Kalau bukan kita, siapa lagi yang peduli dengan permainan tradisional. Mengingat sudah banyak permainan tradisional yang sudah mulai ditinggalkan anak-anak zaman sekarang khususnya di perkotaan. Setiap  orang seharusnya  peduli akan kebudayaan Nusantara sehingga memiliki kesadaran dan tanggung jawab untuk melestarikan kekayaan budaya Indonesia.
Oleh: Nurlaela Rosdiyana/ L-318