Jumat sore tanggal 22 Juli 2011, saat cuaca masih tampak cukup panas, tim
Ekspedisi Pulau Biak dari Lawalata IPB bersiap-siap untuk melihat langsung
acara Barapen yang diadakan di rumah Bapak Kepala kampung Sansundi. Kamera dan
handycame untuk mendokumentasikan
kegiatan tersebut kami persiapkan. Karena menurut Ka Lukas, seorang
guide saat
disana, Barapen diadakan pada saat penyambutan tamu kehormatan, sebuah ritual membakar makanan seperti pisang, singkong dengan batu.
Disambut
oleh warga sekitar saat tiba, Kepala kampung tidak ada karena saat itu sedang
ke dusun tiga untuk menjemput Kepala kampung dusun tiga (Dusun Wopes). Teman-teman
yang lain sibuk mendokumentasikan momen persiapan Barapen, ada yang asyik
berbincang-bincang dengan warga dan ada pula yang sedang melengkapi data tumbuhan.Aku memilih untuk duduk di saung yang berbentuk seperti rumah
panggung dengan keadaan yang sedikit rusak, lantai kayu yang sudah
jarang-jarang dan bilik disekitarnya pun mulai rapuh. Tapi sepertinya tampak
masih kuat, aku pun menaikinya, tampak bagus melihat suasana sekitar dari atas
sini mirip seperti rumah pohon yang ada LAWALATA IPB.
Sekitar halaman rumah kepala kampung
terlihat ibu-ibu dan bapak-bapak sedang menyiapkan perlengkapan Barapen seperti
ubi, singkong yang diparut, pisang, talas, beberapa kayu dan batu yang akan
digunakan saat pembakaran. Sedangkan di sisi lain halaman tampak anak-anak
kecil berusia SD sampai SMP bermain asyik dan senang. Hal yang mereka senang bukanlah
robot-robotan,
remote control atau
game online yang sedang marak saat sini.
Di saat anak-anak di perkotaan bermain dengan tekhnologi yang canggih, tapi
mereka tidak. Mereka bermain dengan apa adanya, memanfaatkan sesuatu yang ada
disekitarnya tanpa harus membuang uang banyak untuk membeli itu.
Aku penasaran
apa yang mereka mainkan sampai senang dan tertawa seperti itu, sesuatu bola
kecil yang diikat pada tali dan cara memainkannya ada yang ditendang dan di
lempar-lempar. Aku dekati, dan aku panggil salah satu dari mereka yang memang
sudah aku kenal karena dia sering main ke rumah kami saat di kampung Sansundi,
namanya douglas. Aku bertanya, “apa yang sedang kalian mainkan? kenapa senang
sekali tampaknya?. Douglas menjawab, “Kami bermain bola”. Bola..? yang ada di
pikiranku bola adalah bola yang terbuat dari karet ditendang seperti sepak bola
atau bola yang dilempar seperti bola tenis. Tapi tidak, aku mencoba melihat dan
mengamati ternyata itu bola kecil yang terbuat dari daun kelapa dan dikaitkan
dengan tali yang terbuat dari daun kelapa juga. Aku bertanya, “Siapa yang
membuat ini? Apa kamu bisa mengajari aku?. Douglas memanggil salah satu temannya
yaitu Herman. Aku melihat dia seperti Lintang, yang ada dalam film “Laskar
Pelangi”, dia tampak pendiam terlihat malu saat aku panggil. Akhirnya dia
mendekat dan naik ke atas, aku bertanya, “Apa kamu yang membuat bola ini? Apa kamu
bisa mengajariku?. Tanpa pikir panjang, dia langsung mengambil sehelai daun
kelapa yang memang banyak disekitar halaman. Dia merapikan ujung-ujungnya, lalu
di belah bagi dua. Lalu dia mulai melipat bagian kiri ke kanan dan kanan ke
kiri. Terus berlanjut dilakukan dengan merapikan membuat bentuk saat daun dilipat
ke kanan dan kekiri. Perlahan-lahan aku perhatikan cara pembuatannya, sungguh
kreatif sekali dia. Tidak lama kemudian, sudah jadi sebuah bola dari daun
kelapa. Lalu aku mencoba membongkarnya kembali dan membuat seperti apa yang dipraktikkan.
Ternyata tidak semudah
saat melihatnya. Mungkin dia agak gemas melihat aku membolak balik daun kelapa
tanpa ada bentuk sedikitpun, yang terjadi adalah daun kelapa tersebut hancur sehingga
sudah tidak layak
lagi untuk dijadikan
bola. Lalu dia turun dari saung dan mengambil daun kelapa, kali ini cukup
banyak daun kelapa yang dia ambil. Dia memberikan satu ke
padaku dan memegang satu untuknya. Dia berkata dengan logat khas
papua, “Pakai yang baru saja yang itu rusak sudah.”
Dia mempraktikkannya
kembali, kali ini gerakan melipat-lipat daun dilakukan dengan pelan-pelan
karena aku akan mencoba mengikutinya. Masih sulit, tapi Herman cukup sabar
dalam mengajariku membuat bola ini. Setelah cukup lama mencoba, akhirnya jadi
juga. Wahh hebat, mungkin punyaku tidak sebagus dengan yang dibuat Herman, tapi
lumayan juga. Lalu aku mencoba turun dan mengambil lagi daun kelapa lainnya dan
mencoba membuat lagi, sepertinya agak lupa caranya. Aku bertanya pada Herman
lagi dan dia mengajariku kembali. Berkali-kali aku coba terus dan terus tanpa
putus asa. Taraaa, akhirnya jadi juga lebih bagus dari yang pertama. Kemudian
dikaitkan dengan daun kelapa yang dibelah tipis dan diikatkan seperti sebuah
alat pancingan.
Aku meminta mereka untuk memainkan bola “ala
mereka”. Mereka memainkan dengan cara di lempar-lempar mirip seperti pemain
bola yang melakukan atraksi melempar bola ke kepala dan ke kaki, ada pula yang
di tendang lalu dimasukkan ke dalam gawang. Terlihat
sederhana, tapi cukup sulit saat memainkan dan membuatnya, mirip seperti sepak
bola bedanya bola yang di pakai ini sangat kecil dan cepet rusak karena hanya
terbuat dari daun kelapa. Pemainan itu cukup membuat mereka senang, tertawa
bersama sama. Bermain, tertawa merupakan salah satu kegiatan yang bisa membuang
kepenatan kita setelah berkegiatan seharian. Permainan bola yang ada di Desa
Sansundi mengisi waktu luang anak-anak saat mereka selesai berkegiatan belajar
di sekolah, sangat unik dan menarik.
Dengan
memanfatkan sumber daya alam apa pun yang ada disekitar, kita dapat
menghasilkan sesuatu yang membuat senang, hanya mengandalkan rasa ingin tahu,
kreatif, dan berani mencoba sesuatu. Menemukan ide-ide cemerlang dari sesuatu
yang kecil dan dapat dikembangkan menjadi sesuatu yang besar. Permainan
tradisional lah salah satu yang harus dijaga dan dilestarikan saat ini, karena
itu merupakan
icon atau ciri khas
dari budaya Indonesia. Kalau bukan kita, siapa lagi yang peduli dengan
permainan tradisional. Mengingat sudah banyak permainan tradisional yang sudah
mulai ditinggalkan anak-anak zaman sekarang khususnya di perkotaan. Setiap
orang seharusnya
peduli akan kebudayaan Nusantara sehingga memiliki
kesadaran dan tanggung jawab untuk melestarikan kekayaan budaya Indonesia.