Lani seorang gadis tangguh, pemberani, bertekad kuat, dan semangat berasal dari suatu organisasi pecinta alam. Entah apa yang ada dipikirannya saat ini adalah berkeinginan dapat menapakkan kaki di salah satu gunung terindah di Indonesia yaitu Gunung Rinjani. Puncak dengan ketinggian 3726mdpl itu terletak di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Dua tahun lamanya keinginan itu terpendam dengan berbagai alasan dan urusan. Dua tahun menunggu membuat Lani semakin yakin akan tujuannnya itu, sehingga apapun yang terjadi jika ada waktu dia langsung berangkat.
Hari itu pun tiba, saat dimana Lani memulai suatu capaian akan mimpi terbesarnya. Segala persiapan mental, fisik, dan dana sudah dipersiapkannya dengan matang. Lani melakukan perjalanan itu hanya ditemani seorang wanita yang berasal dari satu organisasi yang bernama Buni. Lani dan Buni menghabiskan waktu perjalanan menuju Lombok hanya berdua. Berbagai kesenangan, kesedihan, kecewa dan rintangan dihadapi dan diselesaikan berdua. Lani bertugas sebagai koordinator lapangan dan ketua pelaksana perjalanan ini dan Buni pun mengurusi dalam hal administrasi dan konsumsi dalam ekspedisi kecil ini.
Keberangkatan diawali berjanji bertemu dengan Buni di Stasiun Senen, perjalanan Jakarta-Malang membutuhkan waktu kurang lebih 18 jam. Malang menuju Terminal Ubung menggunakan Bus. Rencana awal ingin menggunakan kereta api menuju Banyuwangi karena tidak memesan tiket diawal, alhasil tiket habis dan beralih menggunakna bus. Terminal Ubung-Pelabuahn Padang bay menggunakan colt. Menyebrangi dari Pelabuhan Padang Bay menuju Pelabuhan Lembar membutuhkan waktu 5 jam. Akhirnya sampai di Lombok pada sore hari. Welcome....
Sesampainya di Lombok menuju Lombok Timur, disana Lani sudah berhubungan lama dengan seorang pria dari perkumpulan pecinta alam bernama Heri. Pemuda yang berusia 25 tahun sering sekali mendaki gunung terutama Gunung Rinjani. Tak ragu lagi Lani untuk menyebutnya mbah Rinjani. Heri dan 2 teman lainnya membantu persiapan Lani dan Buni untuk melengkapi logistik. Heri dan temannya sangat menerima dengan senang akan kedatangan Lani dan Buni di tempatnya.
Keesokan harinya, dengan sedikit lelah yang dirasa karena perjalanan menuju Lombok, Lani dan Buni berangkat menuju Puncak itu. Dengan segala yang sudah dipersiapkan menggunakan pick up menuju pintu gerbang Sembalun yang berda di Lombok Timur. Perizinan dan pembayaran selesai dilanjutkan menuju gerbang pendakian. Rasa senang dan bangga pun sudah muncul karena sebantar lagi Lani dan Buni akan menuju puncak itu. Langkah pertama, padang savana langsung menyambut dan angin terus berhembus seakan memberi perlindungan akan terik matahari yang memancar. Berjalan terus, tanpa sadar Heri pun melihat dan mencuri pandang ke arah Lani. Lani pun tak pernah menyadari karena Lani sangat terkagum dan terperangah akan keindahan perjalanan di Gunung Rinjani. Sore pun tiba, bermalam di pos 3 untuk menghilangkan sedikit lelah.
Perjalanan dilanjutkan kembali esoknya. "Jalur yang sangat panjang tapi tidak membosankan". ujar Lani kepada Buni. Terlihat Heri yang terus memandangi Lani berjalan dengan kameranya yang terus menerus memfoto pemandangan sepanjang jalan. "Sisakan baterai kamera kamu Lani, karena pemandangan di atas puncak dan plawangan akan jauh lebih indah". kata Heri. "Tenang bang, aku sudah bawa persediaan baterai yang banyak". Jawab Lani. Mendaki terus, melewati 7 bukit penderitaan, benar-benar menderita karena naik turun, tapi berhadiah karena diatas sana pemandangan lebih indah di Plawanagn tersajikan. Plawangan tempat banyak sekali edelweis tumbuuh, benar-benar karya Tuhan yang maha Indah. Berawal dari ejekan salah satu teman Heri, Lani dan Heri pun berfoto berdua, mungkin terlihat tampak mesra dan serius. Tetapi Lani menganggapnya biasa saja dan hanya sebuah lelucon saja. Beramalam di Plawangan, dan jam 2 dini hari pun harus summit. Pukul 02.00 tiba, persiapan fisik, jaket yang tebal dan konsumsi yang cukup sudah dipersiapkan. Heri sangat perhatian pada Lani, sampai meminjamkan bajunya untuk lapisan dalamnya karena cuaca sangat dingin sekali di puncak. Lani, Buni dan 2 teman Heri mendampingi pendakian menuju summit. Tapi Heri tidak ikut karena harus menjaga camp. Oke, let's go to summit, coming.....
Perjalanan menuju puncak tidak selalu mudah, sulit dan mungkin ini salah satu bagian yang sangat sulit untuk menuju puncak. Gelap berganti menjadi terang sedikit demi sedikit, fajar pun muncul perlahan seakan mengerti tidak ingin cepat terlewatkan, matahari muncul menghilangkan dinginnya pagi buta. "Subhanallah.." ucap Lani. Sungguh indah dan tak dapat terlukiskan pemandanagn menuju puncak Gunung Rinjani. Pukul 07.00 tiba, rencana ingin mendapat sunrise di puncak tapi pupus karena telat tibanya. Ramai puncak dengan pendaki lokal dan asing berebut menuju tempat yang memiki view yang tepat untuk berfoto. Kamera Lani selalu tidak lepas dari tangannya, terus menngambil gambar indahnya di puncak Rinjani, terasa hilang sudah lelah saat mendaki tadi. Lani dan Buni berpelukan karena senang akan puncak yang dicapai sudah ada di hadapannya bahkan sudah diraih. Mengingat sangat beratnya perjalanan menuju Lombok dan Pendakian Gunung Rinjani. Beristirahat sebentar dan melanjutkan turun. "Sayang, bang Heri tidak ikut naik ke puncak bareng" cerita Lani pada Buni. Terus jalan menuju plawangan dengan cara berlari menuruni jalur yang berbatu kecil dan berdebu. Funtastic....
"Bang... aku dapat puncak, senang dan bagus sekali pemandangan di atas. Alhamdulillah di atas cerah dan tidak buruk cuacanya benar-benar sesuatu" cerita Lani pada Heri dengan semangat setiba di camp. Tampak Heri sedang memasak dan menyiapkan makanan. Heri hanya tersenyum melihat Lani yang terus bercerita tentang pendakiannya menuju puncak Rinjani, tampak wajah Heri yang sedih juga karena tidak dapat menuju puncak bersama Lani. Perjalanan selanjutnya menuju Danau Segara Anak. Jalur yang curam dan terus menurun, harus extra hati-hati dalam melewatinya. Tak lepas pertolongan Heri terhadap Lani saat melintasi jalur tersebut seakan tak ingin Lani terluka dan celaka. Dengan beban yang sangat berat yang di bawa Heri tak menjadi penghalang untuk terus mengontrol Lani yang berjalan dengan terus memotert pemandangan. Sepanjang perjalanan pun Heri sangat terhibur akan tingkah pola Lani yang berjalan dengan serius, memotret dan sesekali cerewet untuk berbagi cerita tentang pengalamannya kepada Heri.
Tiba di Danau Segara Anak, benar-benar salah satu karya seni Tuhan yang sangat indah untuk kesekian kalinya. Air yang biru, ikan yang berlimpah dan udara yang sejuk menyambut kedatangan para pendaki. Membangun tenda, lalu memasak untuk makan malam. Malam pun menyambut dengan udara yang sangat dingin. Bahkan untuk saat tidur pun tidak nyaman, Lani tampak tidak tenang dan merasa kedinginan. Heri yang terus memperhatikan lalu menyelimuti Lani dengan berlapis-lapis selimut membalut tubuhnya. Tampak Lani masih terlihat kedinginan, Heri pun memeluk dan terus berusaha untuk menghilangkan dingin pada tubuh Lani dengan menggenggam tangan Lani. Getaran tubuh Lani terus terjadi, helaan nafas yang berat seakan berusaha beradaptasi dengan dinginnya malam. Heri pun rela tidak tidur semalaman, hanya untuk melindungi Lani yang kedinginan dan membuat Lani tertidur pulas.
Pagi berikutnya Heri berjanji kepada Lani untuk mengunjungi beberapa goa. Tampak Lani sangat senang karena Goa merupakan sesuatu yang sangat disukainya. Tentu saja perjalanan yang tidak mudah, tapi selalu saja berhadiah pemandangan yang indah. Goa susu dengan chamber yang luas, terdapat uap air dan merupakan goa yang berair. berikutnya Goa Taman tak kalah indah, disana terdapat air yang dalamnya setinggi dada orang dewasa yang biasa digunakan untuk berendam. Kembali perjalanan ke camp, jalan yang terus menanjak mebuat langkah Lani melambat. Heri pun mengulurkan tangannya untuk Lani, dengan senyum yang manis Lani pun menyambutnya. Setiba di danau, Heri pun memancing meskipun tidak banyak yang didapat. "Yee, dapet-dapet bang. Waah, besar sekali, tapi cuma satu, tak apa lah". teriak Lani kegirangan melihat pancingan Heri mendapat ikan.
Perjalanan pulang menuju Senaru dilakukan pada malam hari. Sebnarnya jalur tersebut masih ada beberapa hal mistis, tapi karena waktu, perjalanan harus terus dilakukan meskipun malam hari. Jalur dengan hutan tropis dan dengan akar-akar pohon yang menjulur ke arah jalur membuat kaki Lani sering sekali tersendung dan keseleo. Heri pun terus menolong dan sigap dalam menolongnya dan terus memperhatikannya. Tiba di Gerbang Senaru, bermalam di sebuah warung dengan pemilik yang bernama nenek Janah. Warung yang sering didatangi Heri saat setelah turun gunung melewati jalur Senaru. Paginya dilanjutkan pulang..
Tak terasa sudah seminggu berada di Lombok, Lani pun akan segera meninggalkan Lombok untuk kuliahnya. Hari terakhir di Lombok, dihabiskan berdua dengan Heri dan Lani untuk mengelilingi Lombok Timur. Berkeliling yang diawali dengan mencari oleh-oleh, ke pantai dan berkunjung ke sanak saudara Heri. Selalu muncul senyum di bibir Lani akan kebahagiaan di Lombok. Semuanya terbayarkan akan perjuangan mencapai Gunung Rinjani yang diimpikannya. Lani dan Buni pun berpamitan dengan Heri dan teman-temannya, berterima kasih akan waktu yang telah diberikan untuk menemani selama di Lombok. Tidak akan mudah dilupakan kenangan dan semua yang diberikannya. Semoga suatu saat dapat dibalas, saat dimana semuanya dipertemukan kembali. Lani hanya menganggap semuanya hanya perpisahan biasa, karena dimana ada pertemuan pasti ada perpisahan. Tapi tidak untuk Heri, terasa air mata ingin menetes ketika Lani pergi, karena tidak mungki kapan dapat bertemu kembali dan jalan bersama. Hanya kenangan dan senyum Lani yang tertinggal di hati dan pikirannya.
Sesampainya kembali pun Lani dan Heri terus berkomunikasi. Tanpa disangka Heri menyatakan perasaannya kepada Lani. Sontak Lani pun terkejut, karena selama ini hanya menganggap semuanya biasa saja dan tidak terlalu spesial hubungan itu. Heri pun terus berusaha meyakinkan Lani akan perasaannya dengan cara terus berkomunikasi dengan Lani. Sebulan, dua bulan, bahkan sampai sekarang hampir setengah tahun berlalu masih tetap berkomunikasi. Lani pun saat ini masih tidak mengerti kapan dan mengapa Heri menyukainya dengan secepat itu, bahkan hanya seminggu pertemuannya. Heri pun juga tidak mengerti, mengapa ini terjadi karen jujur perasaan ini sangat menyiksa Heri yang tinggal jauh dan jarak yang sangat jauh dengan Lani. Heri pun tidak tahu harus dengan cara apalagi untuk meyakinkan Lani dengan keterbatasan yang dimilikinya. Hanya pasrah dan selalu berusaha untuk terus meyakininya.
Seberapa besar usaha Heri untuk terus meyakini Lani, perasaan Lani masih belum tertebak dan belum jelas sampai saati ini. Lani sangat bingung dengan persaan yang terjadi selama ini terhadap Heri, meskipun Heri terus meyakini dan berjanji akan serius dan tetap menyayanginya. Tapi Lani terus memikirkan dan berusaha bertanya pada hatinya apa yang dirasakan sebenarnya meskipun tidak tahu sampai kapan. Selalu berdoa untuk semua yang terbaik dalam hidup Lani dan Heri.